Sebagai pengalaman pertama saya ke Eropa, saya sengaja memilih berangkat akhir tahun. Selain menghabiskan jatah cuti tahunan, saya sengaja memilih bulan November karena bulan ini adalah masa peralihan antara musim gugur (autumn) ke musim dingin (winter). Walaupun orang-orang Eropa menyebutnya sudah masuk winter, mengingat suhu yang bisa dibawah 0 derajat Celsius serta sudah turun salju di pegunungan Alpen, namun pada akhir November ini belum turun salju sehingga kita masih leluasa untuk jalan-jalan keliling kota-kota di Eropa tanpa gangguan salju.
Persiapan yang pertama adalah pastikan semua dokumen-dokumen penting sudah siap dan lengkap. Diantaranya paspor yang masih berlaku setidaknya 6 bulan dan masih ada halaman kosong 2 (dua) lembar. Jika belum memiliki paspor, daftarlah secara online dan membayar biaya pembuatannya melalui transfer bank. Jika paspor sudah expired segera perpanjang paspor secara online dan pilih kantor Imigrasi (Kanim) terdekat yang pilihan hari kedatangannya tersedia sesuai keinginan anda. Mengurus perpanjangan paspor ini tidah sulit lho, dan tidak perlu lewat bantuan perantara. Hanya dalam beberapa hari saja (rata-rata 3 hari) paspor anda sudah siap. Dokumen lainnya yang tak kalah penting adalah visa. Dalam perjalanan saya kali ini kebetulan kota-kota yang saya kunjungi antara lain Amsterdam, Paris, Berlin dan Roma, adalah berada di wilayah negara Schengen (26 negara Eropa) sehingga cukup dengan visa Schengen ini saya bisa masuk ke 26 wilayah negara Eropa. Untuk mendapatkan visa Schengen kita hanya perlu mendaftar di salah satu Kedutaan atau perwakilan negara di Indonesia. Kali ini saya memilih mendaftar melalui Kedutaan Belanda (The Netherlands Embassy) di Jakarta. Sejak 1 Juli 2016, pengurusan visa Schengen tidak lagi dilakukan di kantor Kedutaan Belanda di Kuningan, namun diajukan melalui VFS Global di mall Kuningan City Jakarta. Tempatnya terasa lebih nyaman karena berada di dalam mall, dan apabila tidak ada kekurangan berkas maka pengurusannya pun cepat kira-kira 1 minggu visa sudah ditangan. Cara mengetahui visa anda diterima/tidak yaitu setelah visa dikembalikan dalam plastik segel segera buka, jika sudah tertempel sticker visa itu tandanya visa anda diterima. Petugas akan menyuruh kita memeriksa apakah data-data pada sticker itu sudah benar/belum. Periksa juga berapa lama masa berlaku visa dari tanggal berapa sampai berapa. Kebetulan waktu itu saya mendapat visa untuk 45 hari multitrip... lumayan lah ya.. padahal saya hanya di Eropa untuk 8 hari saja. Multitrip artinya selama tanggal itu saya masih bisa bolak-balik lagi ke Eropa (penginnya sih gitu..... apa daya waktu dan biaya tak cukup.. huhuu..). Untuk biayanya sendiri pada pengurusan visa Shengen bulan Oktober 2016 sebesar IDR 1.220.000,-. Pastikan anda datang sesuai pilihan waktu ketika anda mendaftar online, pengalaman kemarin saya memilih waktu pukul 08.00 WIB dan yang diperbolehkan masuk hanya pendaftar pukul 08.00 WIB. Pendaftar pada jam berikutnya masih disuruh menunggu di luar.
Menjadi first timer tourist ke Eropa membuat saya 'rempong' juga menyiapkan apa saja yang harus dibawa. Dengan membaca beberapa travel blog punya teman-teman backpacker di internet sayapun mendapat gambaran persiapan apa saja yang harus saya lakukan. Berhubung saya tidak suka traveling dengan koper, melainkan ransel, maka saya berusaha meminimalisir perbekalan yang akan dibawa sehingga bisa tetap ringan digendong dengan ransel saya. Dalam memilih ransel, pastikan ransel kita kuat dan memiliki ukuran yang tidak terlalu besar untuk digendong. Inilah salah satu keuntungan apabila kita membawa ransel, karena ketika berada di stasiun maupun di airport akan lebih mudah dalam mobilisasi kita. Bayangkan jika ketika disana kita menggunakan kereta api dan harus naik turun tangga yang dalam, rasanya koper bukan bawaan yang simpel dibanding ransel. Selain membawa ransel utama, sebaiknya bawa juga tas/ransel kecil yang akan kita bawa saat berwisata keliling kota atau mengunjungi obyek-obyek wisata, sementara ransel utama kita tinggal di hotel/hostel tempat kita menginap.
Persiapan berikutnya adalah menentukan apa saja yang akan diisi dalam ransel itu. Secara garis besarnya keperluan yang wajib kita siapkan diantaranya pakaian, obat-obatan, sepatu/sendal, serta asesoris lainnya. Untuk pakaian, berhubung saat itu sudah mulai masuk winter tentu saja pakaiannya harus yang hangat-hangat. Tidak usah terlalu banyak membawa jaket karena akan membuat berat tas kita. Bawalah jaket yang hangat, yang kira-kira akan anda pakai terus selama perjalanan. Untuk waktu 5-10 hari cukup lah 1 atau 2 jaket saja. Saran saya bawalah jaket yang ada tutup/kerudung kepalanya, karena lebih praktis dan lebih hangat disaat kita tidak memakai kupluk yang terpisah dari jaketnya. Sebaiknya pilihlah jaket berpenutup kepala/kerudung yang berbulu-bulu, lebih baik lagi yang berbulu angsa. Jaket yang berbulu ini saya setelah saya coba ternyata sangat hangat dibanding yang tanpa bulu ketika suhunya benar-benar dingin. Ketika di Jerman yang suhunya hingga minus 2 derajat celsius, saya melihat banyak turis eropa khususnya yang perempuan memakai jaket bulu angsa ini dan mereka tampak lebih cantik dan stylis. Perlengkapan lainnya selain jaket adalah longjohn, sweater, celana panjang/jeans, syal, kupluk, sarung tangan, kaus kaki, 'jeroan', baju, dan kaos T-Shirt secukupnya, sarung dan/atau sajadah khusus muslim (sarung juga bisa berfungsi sebagai sajadah saat kondisi darurat). Karena saya laki-laki, tentu saja bawaan saya lebih simple dibanding perempuan. Pengalaman kemarin sepanjang trip di Eropa saya selalu mengenakan jaket, karena saya benar-benar tidak tahan dingin. Memakai longjohn di Eropa sepanjang hari selama winter itu sangat saya sarankan. Karena benar-benar akan membuat tubuh kita hangat dibanding jika tidak memakai. Pakailah longjohn atasan dan bawahan. Untuk alas kaki, pilihlah sepatu yang nyaman, hangat, dan bisa dipakai disegala suasana kemanapun anda berkeliling di Eropa. Untuk menghemat pengeluaran, tidak usah membeli lagi, pakai saja sepatu "ket" atau boots yang anda pakai sehari-hari. Kemarin saya hanya membawa 1 buah sepatu saja yang suka saya pakai untuk jalan saat weekend dan sepatu itu sepatu kulit yang saya beli di Garut dan asli buatan Garut hehe... (cintailah produk-prodik Indonesia). Saran saya untuk kaus kaki bawalah lebih dari 2 pasang atau sejumlah hari anda traveling di Eropa, dan pilih kaus kaki yang tebal. Kemarin saya hanya membawa 3 pasang kaus kaki dan semuanya tipis dan ternyata cepat berbau dan lengket walau hanya dipakai sehari jalan saja.
Yang tak kalah penting harus dibawa dalam perjalanan ke Eropa dan kemanapun adalah obat. Daripada membeli obat di negara tujuan yang belum tentu murah dan cocok, mendingan bawa langsung obat-obatan yang biasa kita pakai sehari-hari. Waktu itu saya membawa obat flu, obat sakit kepala, plaster, inhaller dan tolak angin. Untuk menjaga kondisi disaat suhu begitu dingin, sejenis tolak angin itu sangat bermanfaat dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur dan keesokan harinya akan kembali segar kembali untuk memulai trip berikutnya.
Persiapan berikutnya adalah menentukan apa saja yang akan diisi dalam ransel itu. Secara garis besarnya keperluan yang wajib kita siapkan diantaranya pakaian, obat-obatan, sepatu/sendal, serta asesoris lainnya. Untuk pakaian, berhubung saat itu sudah mulai masuk winter tentu saja pakaiannya harus yang hangat-hangat. Tidak usah terlalu banyak membawa jaket karena akan membuat berat tas kita. Bawalah jaket yang hangat, yang kira-kira akan anda pakai terus selama perjalanan. Untuk waktu 5-10 hari cukup lah 1 atau 2 jaket saja. Saran saya bawalah jaket yang ada tutup/kerudung kepalanya, karena lebih praktis dan lebih hangat disaat kita tidak memakai kupluk yang terpisah dari jaketnya. Sebaiknya pilihlah jaket berpenutup kepala/kerudung yang berbulu-bulu, lebih baik lagi yang berbulu angsa. Jaket yang berbulu ini saya setelah saya coba ternyata sangat hangat dibanding yang tanpa bulu ketika suhunya benar-benar dingin. Ketika di Jerman yang suhunya hingga minus 2 derajat celsius, saya melihat banyak turis eropa khususnya yang perempuan memakai jaket bulu angsa ini dan mereka tampak lebih cantik dan stylis. Perlengkapan lainnya selain jaket adalah longjohn, sweater, celana panjang/jeans, syal, kupluk, sarung tangan, kaus kaki, 'jeroan', baju, dan kaos T-Shirt secukupnya, sarung dan/atau sajadah khusus muslim (sarung juga bisa berfungsi sebagai sajadah saat kondisi darurat). Karena saya laki-laki, tentu saja bawaan saya lebih simple dibanding perempuan. Pengalaman kemarin sepanjang trip di Eropa saya selalu mengenakan jaket, karena saya benar-benar tidak tahan dingin. Memakai longjohn di Eropa sepanjang hari selama winter itu sangat saya sarankan. Karena benar-benar akan membuat tubuh kita hangat dibanding jika tidak memakai. Pakailah longjohn atasan dan bawahan. Untuk alas kaki, pilihlah sepatu yang nyaman, hangat, dan bisa dipakai disegala suasana kemanapun anda berkeliling di Eropa. Untuk menghemat pengeluaran, tidak usah membeli lagi, pakai saja sepatu "ket" atau boots yang anda pakai sehari-hari. Kemarin saya hanya membawa 1 buah sepatu saja yang suka saya pakai untuk jalan saat weekend dan sepatu itu sepatu kulit yang saya beli di Garut dan asli buatan Garut hehe... (cintailah produk-prodik Indonesia). Saran saya untuk kaus kaki bawalah lebih dari 2 pasang atau sejumlah hari anda traveling di Eropa, dan pilih kaus kaki yang tebal. Kemarin saya hanya membawa 3 pasang kaus kaki dan semuanya tipis dan ternyata cepat berbau dan lengket walau hanya dipakai sehari jalan saja.
Yang tak kalah penting harus dibawa dalam perjalanan ke Eropa dan kemanapun adalah obat. Daripada membeli obat di negara tujuan yang belum tentu murah dan cocok, mendingan bawa langsung obat-obatan yang biasa kita pakai sehari-hari. Waktu itu saya membawa obat flu, obat sakit kepala, plaster, inhaller dan tolak angin. Untuk menjaga kondisi disaat suhu begitu dingin, sejenis tolak angin itu sangat bermanfaat dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur dan keesokan harinya akan kembali segar kembali untuk memulai trip berikutnya.