Tuesday, January 24, 2017

Delapan Hari Jalan ke Eropa (2) : Persiapan Sebelum Berangkat

Sebagai pengalaman pertama saya ke Eropa, saya sengaja memilih berangkat akhir tahun. Selain menghabiskan jatah cuti tahunan, saya sengaja memilih bulan November karena bulan ini adalah masa peralihan antara musim gugur (autumn) ke musim dingin (winter). Walaupun orang-orang Eropa menyebutnya sudah masuk winter, mengingat suhu yang bisa dibawah 0 derajat Celsius serta sudah turun salju di pegunungan Alpen, namun pada akhir November ini belum turun salju sehingga kita masih leluasa untuk jalan-jalan keliling kota-kota di Eropa tanpa gangguan salju.

Persiapan yang pertama adalah pastikan semua dokumen-dokumen penting sudah siap dan lengkap. Diantaranya paspor yang masih berlaku setidaknya 6 bulan dan masih ada halaman kosong 2 (dua) lembar. Jika belum memiliki paspor, daftarlah secara online dan membayar biaya pembuatannya melalui transfer bank. Jika paspor sudah expired segera perpanjang paspor secara online dan pilih kantor Imigrasi (Kanim) terdekat yang pilihan hari kedatangannya tersedia sesuai keinginan anda. Mengurus perpanjangan paspor ini tidah sulit lho, dan tidak perlu lewat bantuan perantara. Hanya dalam beberapa hari saja (rata-rata 3 hari) paspor anda sudah siap. Dokumen lainnya yang tak kalah penting adalah visa. Dalam perjalanan saya kali ini kebetulan kota-kota yang saya kunjungi antara lain Amsterdam, Paris, Berlin dan Roma, adalah berada di wilayah negara Schengen (26 negara Eropa) sehingga cukup dengan visa Schengen ini saya bisa masuk ke 26 wilayah negara Eropa. Untuk mendapatkan visa Schengen kita hanya perlu mendaftar di salah satu Kedutaan atau perwakilan negara di Indonesia. Kali ini saya memilih mendaftar melalui Kedutaan Belanda (The Netherlands Embassy) di Jakarta. Sejak 1 Juli 2016, pengurusan visa Schengen tidak lagi dilakukan di kantor Kedutaan Belanda di Kuningan, namun diajukan melalui VFS Global di mall Kuningan City Jakarta. Tempatnya terasa lebih nyaman karena berada di dalam mall, dan apabila tidak ada kekurangan berkas maka pengurusannya pun cepat kira-kira 1 minggu visa sudah ditangan. Cara mengetahui visa anda diterima/tidak yaitu setelah visa dikembalikan dalam plastik segel segera buka, jika sudah tertempel sticker visa itu tandanya visa anda diterima. Petugas akan menyuruh kita memeriksa apakah data-data pada sticker itu sudah benar/belum. Periksa juga berapa lama masa berlaku visa dari tanggal berapa sampai berapa. Kebetulan waktu itu saya mendapat visa untuk 45 hari multitrip... lumayan lah ya.. padahal saya hanya di Eropa untuk 8 hari saja. Multitrip artinya selama tanggal itu saya masih bisa bolak-balik lagi ke Eropa (penginnya sih gitu..... apa daya waktu dan biaya tak cukup.. huhuu..). Untuk biayanya sendiri pada pengurusan visa Shengen bulan Oktober 2016 sebesar IDR 1.220.000,-. Pastikan anda datang sesuai pilihan waktu ketika anda mendaftar online, pengalaman kemarin saya memilih waktu pukul 08.00 WIB dan yang diperbolehkan masuk hanya pendaftar pukul 08.00 WIB. Pendaftar pada jam berikutnya masih disuruh menunggu di luar.

Menjadi first timer tourist ke Eropa membuat saya 'rempong' juga menyiapkan apa saja yang harus dibawa. Dengan membaca beberapa travel blog punya teman-teman backpacker di internet sayapun mendapat gambaran persiapan apa saja yang harus saya lakukan. Berhubung saya tidak suka traveling dengan koper, melainkan ransel, maka saya berusaha meminimalisir perbekalan yang akan dibawa sehingga bisa tetap ringan digendong dengan ransel saya. Dalam memilih ransel, pastikan ransel kita kuat dan memiliki ukuran yang tidak terlalu besar untuk digendong. Inilah salah satu keuntungan apabila kita membawa ransel, karena ketika berada di stasiun maupun di airport akan lebih mudah dalam mobilisasi kita. Bayangkan jika ketika disana kita menggunakan kereta api dan harus naik turun tangga yang dalam, rasanya koper bukan bawaan yang simpel dibanding ransel. Selain membawa ransel utama, sebaiknya bawa juga tas/ransel kecil yang akan kita bawa saat berwisata keliling kota atau mengunjungi obyek-obyek wisata, sementara ransel utama kita tinggal di hotel/hostel tempat kita menginap.

Persiapan berikutnya adalah menentukan apa saja yang akan diisi dalam ransel itu. Secara garis besarnya keperluan yang wajib kita siapkan diantaranya pakaian, obat-obatan, sepatu/sendal, serta asesoris lainnya. Untuk pakaian, berhubung saat itu sudah mulai masuk winter tentu saja pakaiannya harus yang hangat-hangat. Tidak usah terlalu banyak membawa jaket karena akan membuat berat tas kita. Bawalah jaket yang hangat, yang kira-kira akan anda pakai terus selama perjalanan. Untuk waktu 5-10 hari cukup lah 1 atau 2 jaket saja. Saran saya bawalah jaket yang ada tutup/kerudung kepalanya, karena lebih praktis dan lebih hangat disaat kita tidak memakai kupluk yang terpisah dari jaketnya. Sebaiknya pilihlah jaket berpenutup kepala/kerudung yang berbulu-bulu, lebih baik lagi yang berbulu angsa. Jaket yang berbulu ini saya setelah saya coba ternyata sangat hangat dibanding yang tanpa bulu ketika suhunya benar-benar dingin. Ketika di Jerman yang suhunya hingga minus 2 derajat celsius, saya melihat banyak turis eropa khususnya yang perempuan memakai jaket bulu angsa ini dan mereka tampak lebih cantik dan stylis. Perlengkapan lainnya selain jaket adalah longjohn, sweater, celana panjang/jeans, syal, kupluk, sarung tangan, kaus kaki, 'jeroan', baju, dan kaos T-Shirt secukupnya, sarung dan/atau sajadah khusus muslim (sarung juga bisa berfungsi sebagai sajadah saat kondisi darurat). Karena saya laki-laki, tentu saja bawaan saya lebih simple dibanding perempuan. Pengalaman kemarin sepanjang trip di Eropa saya selalu mengenakan jaket, karena saya benar-benar tidak tahan dingin. Memakai longjohn di Eropa sepanjang hari selama winter itu sangat saya sarankan. Karena benar-benar akan membuat tubuh kita hangat dibanding jika tidak memakai. Pakailah longjohn atasan dan bawahan. Untuk alas kaki, pilihlah sepatu yang nyaman, hangat, dan bisa dipakai disegala suasana kemanapun anda berkeliling di Eropa. Untuk menghemat pengeluaran, tidak usah membeli lagi, pakai saja sepatu "ket" atau boots yang anda pakai sehari-hari. Kemarin saya hanya membawa 1 buah sepatu saja yang suka saya pakai untuk jalan saat weekend dan sepatu itu sepatu kulit yang saya beli di Garut dan asli buatan Garut hehe... (cintailah produk-prodik Indonesia). Saran saya untuk kaus kaki bawalah lebih dari 2 pasang atau sejumlah hari anda traveling di Eropa, dan pilih kaus kaki yang tebal. Kemarin saya hanya membawa 3 pasang kaus kaki dan semuanya tipis dan ternyata cepat berbau dan lengket walau hanya dipakai sehari jalan saja.
Yang tak kalah penting harus dibawa dalam perjalanan ke Eropa dan kemanapun adalah obat. Daripada membeli obat di negara tujuan yang belum tentu murah dan cocok, mendingan bawa langsung obat-obatan yang biasa kita pakai sehari-hari. Waktu itu saya membawa obat flu, obat sakit kepala, plaster, inhaller dan tolak angin. Untuk menjaga kondisi disaat suhu begitu dingin, sejenis tolak angin itu sangat bermanfaat dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur dan keesokan harinya akan kembali segar kembali untuk memulai trip berikutnya.








Tuesday, January 17, 2017

Delapan Hari Jalan ke Eropa (1)

Akhir November 2016 yang lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke Eropa. Dengan berbekal paspor, visa, sedikit uang saku dan sedikit keberanian sampai juga saya ke benua yang dulu pernah saya impi-impikan. Perjalanan kali ini saya lakukan dengan solo trip dan termasuk low budget ya, soalnya mulai dari tiket hingga akomodasi yang saya gunakan adalah yang semurah mungkin.. kecuali hotel hehe..  yang saya pilih diantaranya hotel yang memiliki jaringan di dunia. Berawal dari iseng-iseng mencari tiket pesawat promo di internet, antara sadar dan tidak sadar saya membooking dan membayar langsung tiket ke Eropa tujuan Kuala Lumpur - Amsterdam pp seharga IDR 5,2 juta. Saya memilih keberangkatan dari Kuala Lumpur karena dari KLIA ke Eropa harganya akan jauh lebih murah dibandingkan jika berangkat dari Jakarta. Mungkin ini salah satu tips untuk para traveler yang ingin berhemat, carilah penerbangan dari Kuala Lumpur. Untuk menuju ke KL nya tinggal mencari tiket-tiket murah dari Indonesia tujuan KL. Kebetulan saya mendapatkan tiket CGK-KLIA pp dengan Malaysia Airlines seharga IDR 1 juta. Tiket-tiket itu saya dapatkan pada bulan September 2016 melalui nusatrip.com. Kala itu banyak maskapai yang sedang promo dengan harga bersaing diantaranya maskapai Etihad, Emirate, Qatar Airways, Turkish Airways dll. 

Sempat bingung juga mau pilih yang mana karena harga yang ditawarkan hanya beda-beda tipis saja. Berbagai pertimbangan yang saya pakai untuk menjatuhkan pilihan adalah harga tiket, pilihan waktu keberangkatan dan kepulangan, reputasi maskapai dan review dari para traveler yang pernah menggunakan maskapai-maskapai tersebut. Pilihan akhirnya jatuh pada Qatar Airways, karena selain harganya yang paling murah saat itu, kebetulan penerbangan ini yang paling sesuai dengan waktu yang saya rencanakan. Walaupun harus transit di Doha namun saya sangat tidak mempermasalahkannya, itung-itung sambil jalan-jalan lah di Doha Airport yang katanya masih baru dan bagus itu.

bersambung ...

Thursday, December 29, 2016

Traveling Makes Happines

Life is either a daring adventure or nothing at all.
Hellen Keller

(Hidup adalah tentang berani bertualang atau tidak sama sekali)


Dulunya tak pernah bermimpi bisa bepergian keliling Indonesia apalagi ke luar negeri. Kalaupun bisa, itupun juga untuk menjenguk saudara yang ada di Kalimantan. Waktu masih sekolah dulu saya membayangkan betapa asiknya jika bisa bepergian ke seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, menikmati keindahan negeri Indonesia yang indah ini. Ketika kuliah di Semarang dulu saya memiliki teman dari seluruh Indonesia. Kebetulan teman saya ada yang berasal dari Aceh, Timor-Timur, bahkan Papua, mereka pernah menceritakan keunikan kampung halamannya masing-masing. Akhirnya keinginan untuk traveling ke wilayah dalam negeri baru kesampaian ketika saya bekerja di Jakarta, itupun itungannya kerja sambil jalan-jalan.

Tak cukup puas dengan traveling di dalam negeri saja, niat selanjutnya ingin jalan-jalan ke luar negeri harus kesampaian. Pergi ke luar negeri itu dalam bayangan saya disamping tiket pesawatnya mahal pasti akan ribet ngurus dokumen perjalanannya. Pertama harus bikin paspor, apalagi visa pasti akan ribet dan menghabiskan banyak waktu dan biaya. Setelah pupus impian bisa ikut pertukaran pelajar sewaktu SMA dulu, keinginan itu rasanya menjadi wajib ketika sudah bekerja ini. Negara-negara yang menjadi impian saya pada umumnya mengharuskan visa masuk bagi warga negara Indonesia, seperti di Amerika dan Eropa. Kadang saya merasa iri dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang warga negaranya bisa keluar masuk banyak negara maju di dunia ini dengan modal paspor saja tanpa visa apapun.

Ya sudahlah, bagaimanapun kita harus terima dan ikuti saja apapun prosedurnya jika ingin bisa ke luar negeri. Beruntungnya sejak saya membuat paspor 2 tahun yang lalu sudah beberapa negara berhasil saya kunjungi. Traveler beginer dari Indonesia biasanya akan memulai trip ke luar negerinya ke Singapura seperti yang saya lakukan. Alasannya karena Singapura itu dapat dikunjungi tanpa visa, dekat dengan Indonesia, dan bisa dijangkau dari banyak kota di Indonesia dengan pesawat langsung, maupun dari kota Batam yang bisa dijangkau dengan kapal ferry. Apalagi Singapura adalah negara kota yang kecil dengan sarana transportasinya yang mudah dan modern serta tempat-tempat wisata yang banyak, bahkan dapat dikunjungi dalam 1 hari perjalanan saja. Setelah berhasil mengunjungi Singapura trip berikutnya mungkin masih di negara-negara ASEAN yang masih bebas visa seperti Malaysia, Thailand dan sekitarnya. Dari beberapa negara tetangga ini minimal kita bisa mengetahui berbagai perbedaan yang ada di negara lain dengan Indonesia. Singapura jelas negara kecil yang bertib, teratur, dan sangat welcome terhadap turis dari negara manapun. Di Malaysia kita bisa tahu kemajuan infrastruktur yang jauh berbeda dari Indonesia, mulai dari sistem transportasi hingga pemukiman yang tampak tertata dan modern, seperti yang ada di Kuala Lumpur, ibu kota negaranya.

Kalau ke Bangkok Thailand kita akan tahu bahwa transportasi di kotanya lebih baik dibanding Jakarta. Di Bangkok sudah ada BTS dan MRT, yang menunjang para wisatawan untuk berkunjung ke kuil dan obyek wisata lainnya di ibu kota negeri gajah putih tersebut. Sebagai kota wisata dunia, tak heran jika banyak turis mancanegara khususnya kulit putih mengunjungi Bangkok.

Lewat tulisan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman jalan-jalan dari beberapa negara yang pernah saya kunjungi, semoga bermanfaat.




Delapan Hari Jalan ke Eropa (2) : Persiapan Sebelum Berangkat

Sebagai pengalaman pertama saya ke Eropa, saya sengaja memilih berangkat akhir tahun. Selain menghabiskan jatah cuti tahunan, saya sengaja ...