Thursday, December 29, 2016

Traveling Makes Happines

Life is either a daring adventure or nothing at all.
Hellen Keller

(Hidup adalah tentang berani bertualang atau tidak sama sekali)


Dulunya tak pernah bermimpi bisa bepergian keliling Indonesia apalagi ke luar negeri. Kalaupun bisa, itupun juga untuk menjenguk saudara yang ada di Kalimantan. Waktu masih sekolah dulu saya membayangkan betapa asiknya jika bisa bepergian ke seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, menikmati keindahan negeri Indonesia yang indah ini. Ketika kuliah di Semarang dulu saya memiliki teman dari seluruh Indonesia. Kebetulan teman saya ada yang berasal dari Aceh, Timor-Timur, bahkan Papua, mereka pernah menceritakan keunikan kampung halamannya masing-masing. Akhirnya keinginan untuk traveling ke wilayah dalam negeri baru kesampaian ketika saya bekerja di Jakarta, itupun itungannya kerja sambil jalan-jalan.

Tak cukup puas dengan traveling di dalam negeri saja, niat selanjutnya ingin jalan-jalan ke luar negeri harus kesampaian. Pergi ke luar negeri itu dalam bayangan saya disamping tiket pesawatnya mahal pasti akan ribet ngurus dokumen perjalanannya. Pertama harus bikin paspor, apalagi visa pasti akan ribet dan menghabiskan banyak waktu dan biaya. Setelah pupus impian bisa ikut pertukaran pelajar sewaktu SMA dulu, keinginan itu rasanya menjadi wajib ketika sudah bekerja ini. Negara-negara yang menjadi impian saya pada umumnya mengharuskan visa masuk bagi warga negara Indonesia, seperti di Amerika dan Eropa. Kadang saya merasa iri dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang warga negaranya bisa keluar masuk banyak negara maju di dunia ini dengan modal paspor saja tanpa visa apapun.

Ya sudahlah, bagaimanapun kita harus terima dan ikuti saja apapun prosedurnya jika ingin bisa ke luar negeri. Beruntungnya sejak saya membuat paspor 2 tahun yang lalu sudah beberapa negara berhasil saya kunjungi. Traveler beginer dari Indonesia biasanya akan memulai trip ke luar negerinya ke Singapura seperti yang saya lakukan. Alasannya karena Singapura itu dapat dikunjungi tanpa visa, dekat dengan Indonesia, dan bisa dijangkau dari banyak kota di Indonesia dengan pesawat langsung, maupun dari kota Batam yang bisa dijangkau dengan kapal ferry. Apalagi Singapura adalah negara kota yang kecil dengan sarana transportasinya yang mudah dan modern serta tempat-tempat wisata yang banyak, bahkan dapat dikunjungi dalam 1 hari perjalanan saja. Setelah berhasil mengunjungi Singapura trip berikutnya mungkin masih di negara-negara ASEAN yang masih bebas visa seperti Malaysia, Thailand dan sekitarnya. Dari beberapa negara tetangga ini minimal kita bisa mengetahui berbagai perbedaan yang ada di negara lain dengan Indonesia. Singapura jelas negara kecil yang bertib, teratur, dan sangat welcome terhadap turis dari negara manapun. Di Malaysia kita bisa tahu kemajuan infrastruktur yang jauh berbeda dari Indonesia, mulai dari sistem transportasi hingga pemukiman yang tampak tertata dan modern, seperti yang ada di Kuala Lumpur, ibu kota negaranya.

Kalau ke Bangkok Thailand kita akan tahu bahwa transportasi di kotanya lebih baik dibanding Jakarta. Di Bangkok sudah ada BTS dan MRT, yang menunjang para wisatawan untuk berkunjung ke kuil dan obyek wisata lainnya di ibu kota negeri gajah putih tersebut. Sebagai kota wisata dunia, tak heran jika banyak turis mancanegara khususnya kulit putih mengunjungi Bangkok.

Lewat tulisan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman jalan-jalan dari beberapa negara yang pernah saya kunjungi, semoga bermanfaat.




No comments:

Post a Comment

Delapan Hari Jalan ke Eropa (2) : Persiapan Sebelum Berangkat

Sebagai pengalaman pertama saya ke Eropa, saya sengaja memilih berangkat akhir tahun. Selain menghabiskan jatah cuti tahunan, saya sengaja ...